The blue lake, Wamena

The blue lake, Wamena

Latar Belakang/Background
Dani tribe area has some beautiful lakes. One of the most less visited lake is “Blue Lake” or friend called “Telaga Biru”. Dani people believes that, their ancestors came out from this lake and spread to the east called Yali, to West called Lanny, to South called Nduga and themselves. To know more about this story,do not to hesitate to contact us! now,come up with Indonesian text: Salah satu objek wisata bersejarah di kota wamena yang hingga kini masih disakralkan dan di jaga dengan baik oleh warga masyarakat/yaitu objek sejarah asal usul manusia di lembah baliem wamena. Telaga biru di desa maima, adalah objek wisata budaya bersejarah yang diyakini sesuai mitos yang berkembang bahwa telaga biru maima memiliki sejarah misteri lahirnya asal usul manusia di lembah baliem wamena kabupaten jayawijaya hingga ke pegunungan tengah bahkan sampai ke nabire-paniai.

Telaga biru maima,yang dalam bahasa daerah menyebutkan desa maima yang berarti “tempat di bawah di mana ada air” atau (we) ma-i-ma, hingga kini menjadi salah satu objek bersejarah dan lokasi objek wisata budaya yang dijaga oleh pemerintah daerah karena memiliki cerita yang diyakini hingga saat ini oleh masyarakat di lembah baliem sebagai sejarah asal usul manusia pertama di lembah ini.

Keunikannya
The blue lake, WamenaKeunikannya yaitu airnya yang selalu berwarna beru ke hijau-hijauan yang bersumber dari sebuah mata air di kedalaman sekitar tujuh meter di bawah permukaan air dan tepat dibawah sebuah gunung, dan selalu menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan.
Menurut mitos yang dipercayai hingga kini,asal usul manusia pertama yang keluar dari dalam telaga tersebut tidak mempunyai mata dan telinga sedang duduk-duduk dan memainkan sebuah busur anak panah tiba-tiba melihat seorang yang berkulit agak terang muncul dengan hiasan manik-manik diseluruh tubuhnya yang disebut naruekul atau nakmarugi The blue lake, Wamenayang memiliki pengetahuan bagaiman bercocok tanam, ia juga mengetahui aturan perkawinan (wita-waya) dan pedoman hidup yang baik. Ia (seorang yang berkulit agak terang) dibunuh dan dikuburkan dengan daun-daun namun tiba-tiba dari tubuhnya keluar makanan ubi-ubian, bibit pohon pisang, tanaman keladi (bentoel) dan hewan ternak seperti babi. Lalu tulang belulangnya akhirnya dibawah kemana-mana sebagai bibit makanan. Oleh sebab itu, hingga saat ini masyarakat masih memegang teguh kepercayaan ini dengan selalu menyimpan sepotong tulang yang disebut kaneke yang selalu disimpan dalam honai adat atau juga yang disebut pilamo. Kepala bidang objek dan daya tarik wisata dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten jayawijaya, yang juga berasal dari distrik asolokobal tempat telaga biru berada, alpius wetipo membenarkan kepercayaan tersebut dan hingga kini pemerintah melalui dinas terkait turut menjaga dan melestarikan lokasi telaga biru maima sebagai salah satu objek wisata bagi kabupaten jayawijaya. Ditulis dan di Publikasikan, C.P.N.S Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Jayawijaya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY